Teori Hukum

Hampstead menyatakan ada dua hal yang penting dalam hal kita membicarakan teori hukum, yaitu:

  1.  Apakah Teori Hukum dipengaruhi oleh masyarakat
  2. Apakah Teori Hukum  sama dengan filsafat hukum atau bagian dari filsafat, atau sama dengan sains, hal ini mengingat teori hukum itu  kurang disukai karena terlalu sempit dan terbatas sehingga kurang disukai oleh halangan teoritisi.

Adapun Kelsen (Reine Recthslehre: I), menyatakan ada dua hal yang penting bagi seseorang yang mempelajari Teori Hukum : pertama untuk memahami unsur unsur penting dari teori hukum (teori hukum murni), kedua untuk merumuskan teori tersebut agar dapat mencakup masalah-masalah dan institusi-institusi hukum terutama berkaitan dengan tradisi dan suasana hukum sipil, anglo saxon. Teori hukum umum menurut Kelsen adalah berguna untuk menerangkan hukum positif sebagai  bagian dari suatu masyarakat tertentu. Jadi teori ini berusaha untuk menerangkan secara ilmiah tentang tata hukum tertentu yang menggambarkan komunita hukum terkait (misalnya: hukum Perancis, hukum Amerika dll). Ini berarti teori hukum umum bekerja secara analisis komparatf dari sejumlah hukum positif yang berbeda-beda. Kajian utama dari teori hukum umum adalah norma-norma hukum, unsur-unsur hukum (norma tersebut), interrelasinya (hubungan antara berbagai tata hukum), tata hukum sebagai satu kesatuan, strukturnya termasuk hukum dalam pluralitas tata hukum positif.

Disebut teori hukum murni karena teori ini tidak boleh dicemari oleh motif-motif yang menggambarkan keinginan atau kepentingan  baik individu atau kelompok dari sipembentuk undang-undang. Jadi titik beratnya adalah substansi serta analisis struktur hukum positif, bukan kepada kondidisi-kondisi atau penilaian moral atau politik menyangkut tujuannya.

Kedua hal tersebut di atas di latar belakangi oleh dua hal yang menjadi pertimbangan entitas (realita), yaitu :

  1. Antara hukum disatu pihak yang dipandang hanya sebagai  norma (rechts als norm) dan hukum hukum sebagai kenyataan (rechts als feit) dengan masing-masing metode         pendekatan juridische dogmatisch disatu pihak berhadapan dengan metode jurisdische histories in ruime zjin di lain pihak ;
  2. Hukum bersifat non analitical dan hukum bersifat analytical.

Pendapat di atas dikemukakan tentunya dengan beberapa alasan yang menjadi dasar pertimbangan  timbulnya istilah tersebut. Pendapat pertama memiliki latar belakang yang diawali adanya suatu pemikiran atau asumsi bahwa hukum adalah bersifat imperatif (pandangan yang bersifat dogmatis) dengan pendapat lain, hukum bersifat fakultatif. Berangkat dari hal tersebut, maka teori hukum terbagi atas:

  1. Seperangkat gagasan tentang bagaimana seharusnya kehidupan masyarakat atau gagasan bagaimana seharusnya suatu bangunan hukum dalam masyarakat. Jadi teori ini berkaitan dengan substantif dari suatu hukum yaitu lebih menekankan kepada kajian hukum normatif. Para ahli hukum menyatakan teori hukum ini disebut teori hukum tradisional.
  2. Seperangkat gagasan tentang bagaimana kenyataan hukum/perilaku kehidupan masyarakat atau bagaimana hukum dalam kaitannya dengan interaksi masyarakat. Jadi teori ini berkaitan dengan kenyataan hukum dalam bentuk perilaku, sikap, pendapat, atau dengan kata lain yuridis empiris. Teori hukum ini disebut teori hukum modern.

Secara terminology teori hukum dikenal dengan beberapa istilah (Hampstead: 20) yaitu:

  1. Lega theory
  2. Jurisprudence
  3. Legal history

Ad.1). Legal theory adalah suatu teori hukum yang memfokuskan kajiannya bahwa hukum yang dianggap eksis adalah apa yang ada di dalam undang-undang, sedangkan di luar undang-undang dapat dianggap bukan/bagian dari hukum. Istilah legal theory banyak lebih mengacu pada pandangan positivistik. Pada posisi demikian ini para praktisi hukum (jurist als medespeler) kurang atau tidak menyukai teori hukum (legal theory) karena dianggap sangat terbatas dan sempit sifatnya.

Ad.2). Jurisprudence adalah suatu teori hukum yang lebih meletakkan pada suatu dasar pemikiran bahwa hukum dan masyarakat bersifat dialektika fungsional. Yaitu antara hukum dan masyarakat tidak dapat dilepaskan satu dan lainnya dan saling pengaruh mempengaruhi. Pemikiran ini dikemukakan oleh L.A. Hart maupun W. Halverson (1981 : hal. 2 dan 9).

Ad.3). Legal history adalah suatu teori yang berdasarkan pemikiran tentang teori hukum erat hubungannya dengan ideology (legal ideology) dari masyarakat pendukungnya yang berarti bahwa teori hukum sangat erat hubungannya dengan sejarah hukum. Pendapat ini salah satunya adalah Hampstead.

Apakah Teori Hukum Dapat Berdiri Sendiri atau Merupakan Ilmu Pengetahuan, atau Merupakan Bagian Dari Filsafat Hukum?

Teori hukum tidak terlepas dari masyarakatnya dan masyarakat tidak terlepas dari idiologinya.

Catatan : Hal tersebut di atas adalah sama dengan yang diutarakan oleh Hart maupun Haverson. Kita tak dapat mempelajari hukum itu sendiri sehingga kita mencarinya dalam What the Law Does Not Says.

Ilmu hukum dipengaruhi oleh masyarakatnya dan masyarakat dipengaruhi oleh  idiologinya.

Kenyataan bahwa meskipun ada perbedaan-perbedaan idiologi di Negara-negara Barat, Timur dan Negara-negara berkembang, maka yang mempersatukan adalah para Jurist.

Apabila idiologi-idiologi tersebut hamper bersamaan maka mudah untuk mempersatukan, akan tetapi apabila perbedaan tersebut jauh, maka sulit mempersatukan, akan tetapi bagaimanapun tipisnya untuk mempersatukan idiologi-idiologi tersebut.

Sebagai contoh : adalah Treaty of Rome (1958)

Semua yang dapat bergabung dalam pasaran bersama Eropa adalah Negara-negara yang idiologinya hampir bersamaan (Jerman, Perancis, dan Italia) sedangkan Inggris karena idiologinya berbeda sulit untuk masuk gabung tersebut, akhirnya dan dengan mencari benang penghubung tersebut, maka Inggris akhirnya masuk dalam gabungan tersebut (sejak 1973)

Dan ternyata dapatnya mempersatukan idiologi yang berbeda adalah tergantung dari pimpinan.

Maka juga untuk Indonesia mempersatukan idiologi hukum haruslah ada ditangan penguasa (yang arif dan intelektual)

Idiologi masyarakat mempengaruhi idiologi hukumnya; kalau masyarakatnya beridiologi “hanya menurut saja” maka hukumnya akan menjadi statis.

Sedangkan apabila masyarakatnya berkompetisi maka hukumnya akan menjadi dinamis dan ini menjadikan masyarakatnya akan menjadi suatu masyarakat yang maju.

Contoh lain adalah India : mula-mula mereka bermasyarakat sistim kasta yang rigid.

Lalu diperkenalkan dengan nilai baru melalui konstitusi, dengan kebebasan beragama dan mengeluarkan pendapat, sehingga timbul kegoncangan-kegoncangan dalam masyarakat.

Akhirnya dapat diselesaikan melalui pimpinan dalam hal ini adalah Pengadilan yang mengatasinya.

Contoh di Indonesia : Bidang KB, yang semula mempunyai nilai tertentu dalam masyarakat Indonesia, maka sekarang telah dirobah dengan nilai yang baru dan inipun melalui tangan penguasa.

Sukar untuk teori hukum termasuk filsafat ataukah termasuk sains.

Austin mengatakan bahwa peraturan tidak keluar dari filsafat sedangkan peraturan dari para penguasa adalah termasuk hukum, jadi termasuk sains, dan Austin dalam bukunya yang berjudul Lectures on Jurisprudence menyebut juga filsafat positif.

Juga demikianhalnya dengan Kelsen (General Theory of Law and State), dimana dikatakannya bahwa grundnorm nya adalah suatu sains, dan dia menyatakan dirinya sibagai positivist, padahal dengan cara dia menerangkan tentang grundnorm, menunjukkan bahwa dia telah bersilsafat.

Bapak dari filsafat positivist, adalah COMTE.

Menurut Hampstead kedua-duanya dipakai baik sebagai filsafat maupun sebagai sains.

Sulit untuk dipisahkan apakah teori hukum tersebut termasuk filsafat saja ataukah sains, sehingga kalau kita perhatikan, dimana teori hukum tersebut menjelaskan tentang hukum itu sendiri, maka ini disebut sebagai sains, akan tetapi apabila dibicarakan hukum sebagai alat perkembangan atau penghambat, maka kita telah berfilsafat.

Seperti yang diutarakan oleh NORTHROP adalah bahwa :

Systim of norm adalah positif dan ini adalah sains.

Hukum sebagai social control ini adalah filsafat.

Sebagai contoh : Pasal 115 KUHAP, dimana diatur tentang seorang tertuduh yang dapat didampingi oleh pembelanya pada waktu dia diperiksa; apabila diuraikan tentang peraturan itu sendiri maka ini termasuk sains, sedangkan apabila kita bicara tentang apakah pembela mendampingi sitertuduh pada waktu diperiksa, ialah tentang apakah mungkin  ini dilakukan, apa yang harus dipersiapkan (tentang ketrampilan si pembela) dalam mendampingi pasal tersebut, bagaimana efeknya terhadap perkembangan KUHAP maka ini kita telah masuk dalam bidang filsafat.

Contoh : Umpamanya di dunia biologi.

Clone –  membuat orang yang persis sama dengan seseorang dengan mempergunakan cara penguraian gene-2 (Gene splitcing.)

Dalam cara pembuatan clone itu sendiri adalah termasuk sains, sedangkan kalau berbicara tentang pengaruh clone ini terhadap masyarakat, maka ini termasuk filsafat.

Tingkat – 2 proses hukum :

- Policy formulation

      – Rule – making

      – Implementation

      – Dispute resolution

Hampstead berkeinginan untuk mengemukakan bahwa teori hukum itu jika dianggap merupakan science atau pengetahuan akan menyebabkan kajiannya terlalu sempit, karena menurut Hampstead teori hukum dapat berkembang karena bersifat interdisipliner karena hukum tidak dapat dilepaskan dengan masyarakat. Pendapat ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Lord Radeliffe(1981: 92), yang menyatakan:

“you will not mistake my meaning or suppose that I depreciate one of the great humane studies if I say that we cannot learn law by learning law. If it is to be anything more than just a technique it is to be so much more than itself: a part of history, a part of economics and sociology, a part of ethics and philosophy of life”.

Catatan: Hampstead menanggapi apakah teori hukum (legal theory) merupakan science atau bagian dari filsafat yang mengatakan harus diakui hal ini tidak mudah, karena walaupun ada beberapa sarjana yang dapat kita kategorikan bahwa teori hukum sebagai science sehingga oleh karenanya bersifat rasional atau pun merupakan bagian dari ajaran mazhab hukum positif sebagaimana dianut oleh Agus Comte, John Austin, maupun oleh Hans Kelsen tetapi apabila dikaji lebih lanjut ternyata tidaklah murni merupakan sains yang terlepas dari kajian filsafat. Misalnya, pendapat Kelsen dengan teori hukumnya yang terkenal bernama “Teori Hukum Murni (reine rechts lehre)” yang mengemukakan bahwa konsep hukum adalah ajaran hukum positif yang terkenal dengan Stufen Bow Theorie. Ternyata apabila kita perhatikan Kelsen memulai teorinya dengan Ground Norm atau yang dikenal dengan hukum dasar, yang intinya bersifat dasar-dasar hukum seperti keadilan, keseimbangan, perlindungan. Semua itu merupakan konteks filsafat.

Demikian pula jika teori hukum semata-mata sebagai sains yang berarti eksistensinya pada kekuatan rasionalitas, maka teori hukum ini sendiri tidak dapat menjelaskan bahwa mengapa hukum (hukum positif) memerlukan suatu pembenaran dari hal-hal yang bersifat irrasional atau di luar hukum positif itu sendiri, sehingga berdasarkan hal tersebut di atas teori hukum tidaklah dapat dianggap sebagai suatu hal yang berdiri sendiri melainkan memerlukan suatu pendekatan yang bersifat sintesis. Atau dengan kata lain teori hukum tidak dapat melepaskan dari filsafat hukum.

Contoh dalam bidang lain misalnya dalam lapangan biologi di mana teori tentang clone atau gen splitcing, hal ini dapat dianggap murni sebagai sains tetapi di dalam kenyataan, aktualisasi dari pengadaan klon, untuk dapat eksis seperti misalnya mengadakan percobaan (eksperimen) tentang klon tersebut apakah bisa dilakukan atau tidak akan terbentur dengan persoalan rasa keadilan, etika, moralitas yang semua itu justru menyebabkan teori tentang gen, yang murni sebagai sains tidak lepas dari pandangan filsafat, apakah klon dapat dilakukan atau tidak minimal pada manusia.

 

 

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 72 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: